Skip to main content

Posts

Arsa, Bintang Kecil Titipan Tuhan

Gemercik air sungai yang dangkal dengan ikan-ikan yang berenang lincah didalamnya membuat seorang anak kecil terkesan. Terbersit di benaknya, “Mengapa ikan itu dapat bergerak begitu lincah di air tanpa bantuan tangan maupun kaki?” Tiba-tiba Zikar datang dengan teganya mendorong Arsa yang memandang ikan-ikan itu ke dalam sungai. “Hahahahaha.... Lihatlah kau yang begitu lemah Arsa! Kau tahu mengapa ikan itu sangat hebat berenang tanpa kaki maupun tangan? Itu karena mereka punya otak cerdas di kepalanya, bukan seperti dirimu yang bahkan lupa dimana otakmu berada. Hahahaha... Coba saja kau lempar batu yang ada di tanganmu hingga mengenai diriku” Arsa semakin kesal dengan ucapan Zikar yang begitu menjengkelkan. Arsa berusaha membuktikan kemampuannya dengan melempar batu itu. Batu itu tidak sedikit pun mengenai Zikar, namun tepat mengenai jendela rumahnya. Zikar sangat marah, dia menghampiri dan mencengkeram leher Arsa. Arsa berusaha menjelaskan bahwa ia tidak sengaja melakukan itu...

Sisa Kenangan

Kekosongan jalanan, gang pelosok hingga perumahan Hatiku pun hampa, sendiri di bilik kamar Penasaran, bertanya-tanya akan keberadaan Hari-hari berlalu merajut kenangan, masih teringat jelas Semua kasih cintaku masih sama Ku panjatkan doa Berharap mimpi membawa ku kembali bersama Berbaring di tengah ladang, memandang langit biru berteman awan Bersamamu di tempat terindah dalam kenangan Mencoba mengalihkan pandangan membaca, bekerja, tertawa Tak kunjung berhenti memikirkan Dirimu dan kenangan-kenangan Gianyar, 9 April 2020 Filosofi: Seseorang merindukan kekasih yang telah lama pergi dari kehidupannya. Begitu keras usahanya mencoba melupakan kenangan, apalah daya semua selalu mengarahkannya pada kenangan indah bersama sang kekasih. Kenangan yang mengguncang hati, indah ataupun buruk semuanya tentu membekas. Melupakan adalah upaya yang sia-sia dalam hal ini. Tetap sematkan dan abadikan kenangan orang-orang terkasih. Jangan lupaka...

My Weird Diary

Tiada terpikir kata-kata, tiada konsep berbicara, hanya tetap mendengarkan Tiada air mata, tiada kesan, haru, duka Berusaha merasakan, meski mentari terhalang awan kegelapan, meski rembulan membuatku kedinginan Sang pemilik hati masih menyamar Setiap waktu ku tunggu jawaban. Keinginan mencakar langit menembus awan Akankah semuanya pantas ku dapatkan? Perlu sedikit penyempitan, tentang kebutuhan yang sebenarnya. Menyingkirkan keserakahan, keegoisan Belum mencapai satu siklus kehidupan, waktu belum lama berjalan. Seluruh hidupku tiada cukup hanya menunggu kepastian Kebenaran, aku akan mencarinya, mendapatkannya. Semua dilema, membuatku lelah hingga terlelap Terlalu banyak merasuki pikiran, membangunkan ku berkali-kali menuju alam sadar Bermimpi berkali-kali tidak cukup nyata hingga membuatku sadar Mimpi memang membuatku menjadi pemeran utama, kadang memegang kendali atas segalanya Begitu kembali menatap kenyataan Aku ha...

Buku Harian dan Pena Hitam

Kertas-kertas bercorak tinta Tertulis kisah melegenda Debu-debu kenangan melingkupinya, menggenggam, memecah, menelannya Tinta tulisan lenyap tak terbaca Kisah buku harian dan pena hitam Gadis kecil dan kegelapan Tak bisa berkawan Tak mampu melawan Diam, sunyi, kesepian Gadis kecil menulis Kisah-kisah miris Terlantun berbaris-baris Kata-kata miris Buta baca-tulis Julukan si Gadis Kegelapan, kesedihan Tak menuntunnya jauh ke dalam Masih ada kawan, si buku harian, corak pena hitam Menuntun menuju kesembuhan Angkat buta pengetahuan Buku Harian, telah berdebu dan kusam Pena Hitam, telah tua dan buram Gadis kecil, telah dewasa dan berkembang Menguak balik kenangan Tantangan kehidupan silam, berhasil dimenangkan Gadis kecil Bangkit dari kegelapan Berjaya di masa depan Kembali mengenang, jasa buku harian dan pena hitam Gianyar, 4 April 2020 Filosofi: Kisah gadis kecil yang berbeda dengan gadis se...

Aku Hanya Kelebihan

Ketulusanku telah kulukiskan di dasar hatimu Sedari kau tak mengharap hadirku hingga kini meski tiada pandanganmu jatuh padaku Kesetiaan janjiku tiada rapuh oleh makimu hingga kini meski tiada hati yang terbuka untukku Senangnya hati kala kau cumbui diriku meski hanya seberkas bunga tidurku Jiwa ini tenang kala kurasakan hangatmu meski hanya mampu ku dekap selimut tidurmu Asaku ingin bahagiamu Meski tiada bisa kau terima pemberianku Meski tiada hal yang pantas dariku untukmu Kini kau terbaring kesepian nan pilu Kegelapan telah meliputi pandanganmu Tak peduli malang nan rapuhnya dirimu Kemalanganmu tak mengubah pandanganmu terhadapku Aku hanya kelebihan dalam hidupmu hanya menodai bahagiamu Aku hanya kelebihan yang kau beri kesempatan melihat dunia Menghormatimu hanya itu yang ku lakukan meski hanya kekejaman kekerasan, keraguan, kesepian yang ku rasa Aku mengerti, sangat paham Aku hanyalah kelebihan     Aku hany...