Skip to main content

Posts

Showing posts with the label depresi

Dusta Perenggut Bahagia

Lelaki yang sama, kembali datang membawa harapan, menyambung kehangatan yang pernah hilang Tiada ragu kembali ku menaruh harap, padamu yang ku cinta Fajar berganti rembulan Semua hanya tentang kita Hadirmu, bak pengangkat semesta Membuatku menjadi manusia seutuhnya Waktu, rasanya tak ingin ku beranjak, melewati keindahan cinta ku bersamanya Kisah cinta, lelaki yang selalu ku banggakan Memudar kian menjauhi pandangan Menghilang tanpa jejak kabar Tiba waktunya kembali pulang, kewajiban menjadi alasannya menghilang Ku terima, ku percaya Tak lama waktu berselang Wanita itu datang membawa kabar Kenyataan menyakitkan Kau yang menduakan cinta kita dengan dia, yang dulu kau sebut kenangan Akankah ada hati yang tegar menerima, janji diatas ingkar Akankah aku hanyalah pelampiasan, penyejuk hatimu kala duka Bunga mawar merah, cokelat yang kau hadiahkan Masihkah kau ingat? Kini telah layu berguguran, mencair bersama kenan...

Dilema Hati

Hubungan kita kandas sudah begitu lama Kau dan aku menggenggam tangan yang berbeda Berharap obat ini mampu menenangkan, membuat ku lupa hingga hilang ingatan, tentangmu dan kerinduan Dia yang mencintaiku Menemani kala badai hati ini membelenggu Aku dan dia menjalin ikatan demi melupakanmu Apalah dayaku Perasaan yang kurasakan untukmu, lebih kuat dan nyata meski dia menemaniku Telah lama ku kunci hati, untukmu si penguasa hati Takdir tak bisa ku pungkiri, melepas pelukmu dari diri ini Pertanyaan dunia selalu ku hindari, siapa yang ku cintai? dirimu, penyulut lara hati yang telah lama pergi ataukah dia, sang pemulih jiwa ini Aku benci menyakiti Disakiti juga bukan inginku Bila dia ku miliki, berhari-hari menemani ku yang mencintaimu Akankah dia terisak sendiri tanpa ku tahu Bagaimana membebaskan rantai dilema ini, terikat erat menyesakkan hati Intuisi dan logika seakan membelah diri ini, menghakimi hati tanpa henti, s...

Depresi Bukan Akhir

Ketakutan akan ketidakpastian, terkadang memenuhi pikiran Diri sendiri pun bertanya-tanya Rasa takut ini, perlu seberapa banyak Ini cukup membuatku gila Sebelumnya tiada jenuh bersemangat, percaya diri mengemudi semesta Belakangan mulai ku temukan, kenyataan mengambil kemudi ku, menarikku ke belakang Hari esok yang sebelumnya terbaca, kini menjadi kejutan Akankah menjadi riang, akankah mengutukku dalam kemalangan Kemudiku teralihkan Aku tak berdaya, duduk terpaku, tangan gemetar, mata terbuka Baik buruknya kejadian, tak terhindarkan Aku akan berada, di posisi kemudi utama Ku abaikan kesempatan bermanja derita, ketakutan akan aturan kaki tangan terikat Ku buat sarang sendirian, telah terpikir ini tidaklah mudah Sebelum menikmati manisnya gula, perlu ku rasakan tawarnya air dan segala bentuk kepahitan Apa pun yang menjadi pilihan, ku percaya inilah terbaik dari semua Komentar tidak menyenangkan, seolah cemeti terkuat ...

Semesta Kita

Dunia sebenarnya, mari aku tunjukkan Semua yang bersinar, berkilau, indah, redup, juga arti kegelapan Bukalah matamu dan rasakan Bersiaplah Dunia ku agak mengejutkan Kenyataan yang mengherankan Terlalu serakah bila tak ku bagikan Padamu kekasih tercinta Lihatlah, satu persatu ke segala penjuru arah Langit pagi ceria, langit siang menghangatkan langit sore menjingga, langit malam penuh bintang Taman sakura, ladang hijau menyejukkan Deru ombak pantai berteman angin lembut menyapa, menerpa rambut indahmu, menjelaskan dirimulah anugerah, dirimulah keindahan yang pernah hilang Kini kau kembali datang, dunia ku pun bersambut ria Tinggallah disini bersama Dunia lama mu, simpanlah di kantung kenangan Jangan paksa dirimu melupakan Semua dunia punya sisi kegelapan, dunia ku pun sebelumnya sama, tandus dan gelap Ku sadari tidaklah buruk jika berubah Sebelum sepenuhnya dunia tenggelam Kemana pun kau menjelajah, melambaikan tan...