Skip to main content

Posts

Showing posts with the label ibu

Arsa, Bintang Kecil Titipan Tuhan

Gemercik air sungai yang dangkal dengan ikan-ikan yang berenang lincah didalamnya membuat seorang anak kecil terkesan. Terbersit di benaknya, “Mengapa ikan itu dapat bergerak begitu lincah di air tanpa bantuan tangan maupun kaki?” Tiba-tiba Zikar datang dengan teganya mendorong Arsa yang memandang ikan-ikan itu ke dalam sungai. “Hahahahaha.... Lihatlah kau yang begitu lemah Arsa! Kau tahu mengapa ikan itu sangat hebat berenang tanpa kaki maupun tangan? Itu karena mereka punya otak cerdas di kepalanya, bukan seperti dirimu yang bahkan lupa dimana otakmu berada. Hahahaha... Coba saja kau lempar batu yang ada di tanganmu hingga mengenai diriku” Arsa semakin kesal dengan ucapan Zikar yang begitu menjengkelkan. Arsa berusaha membuktikan kemampuannya dengan melempar batu itu. Batu itu tidak sedikit pun mengenai Zikar, namun tepat mengenai jendela rumahnya. Zikar sangat marah, dia menghampiri dan mencengkeram leher Arsa. Arsa berusaha menjelaskan bahwa ia tidak sengaja melakukan itu...

Aku Hanya Kelebihan

Ketulusanku telah kulukiskan di dasar hatimu Sedari kau tak mengharap hadirku hingga kini meski tiada pandanganmu jatuh padaku Kesetiaan janjiku tiada rapuh oleh makimu hingga kini meski tiada hati yang terbuka untukku Senangnya hati kala kau cumbui diriku meski hanya seberkas bunga tidurku Jiwa ini tenang kala kurasakan hangatmu meski hanya mampu ku dekap selimut tidurmu Asaku ingin bahagiamu Meski tiada bisa kau terima pemberianku Meski tiada hal yang pantas dariku untukmu Kini kau terbaring kesepian nan pilu Kegelapan telah meliputi pandanganmu Tak peduli malang nan rapuhnya dirimu Kemalanganmu tak mengubah pandanganmu terhadapku Aku hanya kelebihan dalam hidupmu hanya menodai bahagiamu Aku hanya kelebihan yang kau beri kesempatan melihat dunia Menghormatimu hanya itu yang ku lakukan meski hanya kekejaman kekerasan, keraguan, kesepian yang ku rasa Aku mengerti, sangat paham Aku hanyalah kelebihan     Aku hany...

Risalah Asa Pertiwi

Pancali [1] , mekar di tengah api suci Yadnya [2] suci tanda kelahiran pertiwi menyejukkan udara sesak penuh caci selaraskan gundah hati sanubari Pancali, Dewi Drupadi, selayaknya api Kehangatan, cinta kasih, luluhkan kerasnya hati Ketulusan, kemurnian hati, tiada lagi yang memiliki Keberanian, ketangguhanmu, selayaknya Dewi Kali [3] Kala amarahmu tersulut, tiada mudah mengakhiri Pancali kini terpuruk dalam bimbang Amarah bagai magma panas menggenang Pancali yang tangguh kini tiada berdaya Jatuh tertunduk di kaki Duryudana [4] Terjerat tanpa perlawanan Sukmanya tertusuk begitu kuat nan dalam tiada sanggup menghadapi kenyataan Semua beban terkulai di pundakmu Timbunan dustamu tiada terurus Siapa pemberani yang mampu membalut luka-lukamu sejukkan amarah jiwa raga hingga tulangmu kencangkan lunglai sukmamu abadikan ranum ragamu Pertiwi kini bak Pancali menjadi taruhan petinggi negeri Awan hitam pekat pagar-pagar tinggi n...